
Tidak lama setelah Tool menuntaskan lagu pamungkas mereka, "Stinkfist", di Purple Stage, OzzFest Jepang 2013, semua perhatian tertumpu pada Black Stage di sebelah kanan: sang headliner: Black Sabbath!
Walau tempat sudah penuh sejak Tool bermain, tetap saja orang berdesak-desakan berusaha memenuhi ruang yang nyaris tanpa sisa. Untung saja venue Makuhari Messe yang seperti hanggar raksasa ini memiliki pendingin udara yang sejuk sehingga rasa panas tidak terlalu mengganggu.
Setelah berkali-kali digoda oleh tata cahaya yang sesekali menyala dan berganti warna, akhirnya terdengar suara helikopter dari speaker dan visual perang mengisyaratkan lagu pertama hendak dimainkan: "War Pigs"!
Satu per satu personel Sabbath keluar: Geezer Butler, Tommy Iommi dan Ozzy Osbourne, sementara drummer orisinal Bill Ward yang tidak dikutsertakan karena kontroversi masalah fee digantikan oleh Tommy Clufetos (Rob Zombie, Ozzy Osbourne).
Membuka dengan "War Pigs", vokal Ozzy Osbourne seperti tidak berubah sejak pertama kita mendengarkan album perdana Black Sabbath, menakjubkan. Apalagi untuk seorang rockstar berusia 64 tahun yang belum lama ini mengaku jatuh kembali ke lembah drugs.
Selayaknya sebuah konser reuni, para personel Black Sabbath kerap tersenyum senang dan tampak bersemangat memainkan lagu dan menghibur penonton. Berderet lagu-lagu klasik Black Sabbath dari empat album pertama dibawakan, "Into The Void", "Snowblind", "Behind The Wall Of Sleep", dengan visual dan tata chaya yang seru sementara penonton ikut bernyanyi kencang. Pada intro "N.I.B.", Geezer memainkan solo bass yang memukau dengan gaya finger picking-nya. Inspiring.
Tanpa berusaha mengecek setlist mereka sebelumnya di tur Australia, hal yang mengejutkan ketika lagu favorit saya, "Black Sabbath", dibawakan. Bisa jadi ini adalah nomor ter-heavy malam ini dan telah menjadi blueprint bagi band-band doom metal atau sludge metal. Otomatis semua tangan di atas memberikan the devil handsign.
"Symptom Of The Universe" dibawakan sebagai instrumental sebentar, sebelum masuk menjadi solo drum oleh Clufetos. Di sini peran Clufetos sebagai drummer pengganti Bill Ward terasa besar, dan seakan membuktikan kalau dia berhak duduk di tahta mesin penjaga beat band legendaris ini. Ciamik!
Intro "Iron Man" berkumandang, riff paling ikonik dalam dunia musik rock/metal ini membuat penonton di Makuhari Messe mengikuti riff ini menjadi sebuah koor raksasa yang membuat bulu kuduk berdiri. Goddamn. Ada satu dua baris lagu di mana Ozzy sedikit fals, tapi itu menjadi hal minor karena semua orang menikmati momen lagu ini.
Lagu baru "God Is Dead" secara live terdengar lebih baik dari versi rekamannya yang belum lama dirilis. Menutup set sebelum encore adalah "Children Of The Grave". Lagu pamungkas belum dimainkan, dan tentu saja penonton sudah tahu dan menunggu-nunggu. Iommi memainkan riff singkat dari "Sabbath Bloody Sabbath" untuk membuat penonton semakin menggila sebelum masuk ke "Paranoid".
"Everybody jump on this one!" Ketika pionir heavy metal memintamu untuk semakin menggila, tentu saja kalian lakukan dengan senang hati. Pecah!
Dari sisi performa band, Black Sabbath menampilkan performa yang nyaris flawless, sementara dari sisi penonton, sedikit� sulit untuk merasa nyaman dengan 30.000 orang yang terlalu berdesakan. Mereka yang bilang orang Jepang itu kecil-kecil nampaknya adalah mereka yang bertahan di tahun 1920an.
Namun saya memperhatikan bahkan mereka yang berpostur tidak tinggi di belakang saya nampak sumringah walau tidak dapat melihat ke panggung atau layar visual. Setlist yang keren dan vibe konser live besar membuat konser ini memorable dan memuaskan.