Setelah sempat menguat pada perdagangan Selasa pagi (11/6/2013), nilai tukar dolar AS hari ini, Rabu (12/6/2013) ditransaksikan melemah terhadap sebagian besar mata uang Asia-Pasifik, kecuali terhadap rupiah, yen, dan baht.
Setelah sempat menguat pada perdagangan Selasa pagi (11/6/2013), nilai tukar dolar AS hari ini, Rabu (12/6/2013) ditransaksikan melemah terhadap sebagian besar mata uang Asia-Pasifik, kecuali terhadap rupiah, yen, dan baht.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus menguat hingga siang ini, Selasa (11/6/2013) dan berada di bawah Rp10.000.
Nilai tukar dolar AS pada perdagangan hari ini, Rabu (5/6/2013) ditransaksikan beragam terhadap mata uang Asia-Pasifik.
Berdasarkan data Bloomberg, dari 12 nilai transaksi mata uang di Asia-Pasifik, dolar AS ditransaksikan melemah terhadap enam mata uang dan menguat terhadap enam mata uang.
Kurs nilai tukar mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi melemah nilainya sebesar delapan poin menjadi Rp9.715 dibanding posisi sebelumnya Rp9.707 per dolar AS.
Analis Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu, mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah masih berada di area negatif seiring dengan sikap pelaku pasar yang menolak rencana skema dana talangan yang diinginkan oleh otoritas Euro yakni pemberlakuan pungutan pajak bagi deposan.
"Hal itu yang membuat pasar khawatir Suprus akan terancam default dan kejatuhan sektor perbankannya," kata Reza Priyambada.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini, Jum'at (15/3/2013), ditransaksikan melemah tipis terhadap dollar AS sebesar Rp1 atau 0,01% ke level Rp9.701/US$ pada pukul 9.07 WIB.
Pada awal pembukaan perdagangan pagi ini rupiah sempat melemah menyentuh level Rp9.701 per dollar AS.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini, Rabu (13/3/2013), ditransaksikan melemah tipis terhadap dolar AS sebesar Rp1 atau 0,01% ke level Rp9.694/US$ pada pukul 9.05 WIB.
Pada awal pembukaan perdagangan pagi ini rupiah sempat menguat Rp3 atau 0,03% ke level Rp9.690/US$.
Kurs rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah sebesar delapan poin terhadap dolar AS, menjadi Rp9.668 dibanding posisi sebelumnya Rp9.660 per dolar.
Kepala Riset Monex Investindo Futures, Ariston Tjendra mengatakan pelemahan kurs mata uang beberapa negara berkembang termasuk rupiah terhadap dolar AS menyusul kekhawatiran politik di Italia.
"Investor masih khawatir atas ketidakpastian di Italia, ekonomi terbesar ketiga di kawasan negara Euro akan kembali memperburuk krisis," kata dia.
Nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi ini, Rabu (27/2), menguat terhadap dollar AS sebesar Rp20 atau 0,21% ke level Rp9.687/US$ pada pukul 9.24 WIB.
Pada awal pembukaan perdagangan pagi ini rupiah sempat melemah Rp6 atau 0,06% ke level Rp9.713/US$.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (19/2/2013) sempat menguat terhadap dollar AS sebesar Rp19 atau 0,19% ke level Rp9.690/US$.
Pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (19/2), nilai tukar rupiah terdepresasi dollar AS dengan pelemahan sebesar Rp24 atau 0,25% ke level Rp9.709/US$.
Namun demikian, posisi penguatan tersebut tak berlangsung lama. Hingga pukul 9.23 WIB rupiah kembali ditransaksikan melemah Rp28 atau 0,27% ke level Rp9.711/US$, meski masih berada pada level di bawah penutupan kemarin.
Kurs rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Senin pagi bergerak naik lima poin menjadi Rp9.655 per dolar AS dari posisi sebelumnya, Rp9.660 per dolar AS.
"Pergerakan nilai tukar rupiah menguat setelah terimbas apresiasi mata uang yen Jepang. Di sisi lain, penguatan rupiah juga dipicu data trade balance China yang di atas perkiraan meski angkanya masih lebih rendah dari sebelumnya," kata analis Trust Securities, Reza Priyambada.
Nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Kamis pagi bergerak naik 10 poin menjadi Rp9.660, dari posisi sebelumnya Rp9.670 per dolar AS.
"Rupiah cenderung masih dijaga BI, sehingga mata uang domestik dapat bergerak menguat di pasar uang," kata pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Rully Nova.
Dengan penjagaan Bank Indonesia (BI) itu, lanjut dia, fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan cenderung stabil pergerakannya.
Kurs mata uang rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (30/1) pagi bergerak melemah sebesar 35 poin menjadi 9.705 dibandingkan dengan sebelumnya di posisi 9.670 per dolar AS.
Analis Trust Securities Reza Priyambada di Jakarta mengatakan pergerakan nilai tukar rupiah bergerak melemah meski mata uang euro masih terapresiasi. "Meski demikian pelemahan rupiah masih dalam kondisi yang stabil seiring dengan penjagaan BI," katanya.
Nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi dolar AS pada awal pembukaan perdagangan hari ini Rabu (23/1) sebesar Rp133 atau 1,28% ke level Rp9.753/US$.
Pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (22/1), mata uang garuda itu ditransaksikan terkoreksi tipis Rp2 atau 0,02% ke level Rp9.620/US$.
Nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi dolar AS pada awal pembukaan perdagangan hari ini Selasa (22/1) sebesar Rp81 atau 0,84% ke level Rp9.699/US$.
Pada penutupan perdagangan kemarin, Senin (21/1), mata uang garuda itu ditransaksikan menguat Rp210 atau 2,14% ke level Rp9.618/US$.
Bank Indonesia memproyeksikan langkah Pertamina dan PLN memperoleh valuta asing dari Bank Indonesia melalui tiga perbankan BUMN, secara tidak langsung dapat menjaga nilai tukar rupiah pada level Rp9.400 hingga Rp9.600.
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution telah menyatakan komitmennya untuk menyediakan valas kepada tiga perbankan pelat merah tersebut yakni PT Bank Negara Indonesia, Tbk; PT Bank Rakyat Indonesia, Tbk; dan PT Bank Mandiri, Tbk sehingga ketiganya tidak perlu membeli di pasar uang.
Pasalnya, tiga bank tersebut merupakan pemasok utama pengadaan dolar untuk Pertamina yang menyerap lebih dari 1/3 kebutuhan valas secara nasional untuk impor BBM, termasuk PT PLN.
Sebelumnya, ujar Darmin, Pertamina dan PLN memang sudah diminta untuk membeli valas di tiga bank BUMN, namun bank-bank tersebut baru meminta pasokan valas dari BI jika valas yang ada di pasar uang dianggap masih kurang. Namun sejak Rabu, (16/1) BI dan Kementerian BUMN telah memperkuat langkah-langah agar ketiga bank tersebut hanya membeli dari Bank Sentral.
Setelah sempat menguat pada penutupan perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah kembali terdepresiasi terhadap dolar AS pada hari ini, Jum'at (18/1).
Hingga pukul 9.22 WIB nilai tukar rupiah terdepresiasi Rp113 atau 1,17% terhadap dolar AS ke level Rp9.763/US$.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini (15/1), melanjutkan koreksi terhadap dollar AS sebesar Rp11 atau 0,11% ke level Rp9.879/US$.
Pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa (15/1) mata uang Garuda itu nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dollar AS sebesar Rp233 atau 2,42%% ke level Rp9.868 per dollar AS.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan pagi in 14/1), menguat terhadap dollar AS sebesar Rp88 atau 0,91% ke level Rp9.635/US$.
Pada penutupan perdagangan Jum'at (11/1) posisi rupiah menguat 2,52%% ke level Rp9.641 per dollar AS.
Hingga pukul 9.29 WIB, rupiah ditransaksikan pada kisaran Rp9.635-Rp9.867 per dollar AS.
Dari indeks nilai tukar Bloomberg pukul 9.33 WIB diketahui dollar AS menguat terhadap mayoritas mata uang Asia.
Nilai tukar dolar AS terhadap mata uang Asia
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis pagi menguat 75 poin menjadi Rp9.715 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp9.790 per dolar AS.
Menurut ekonom dari Samuel Sekuritas, Lana Soelistianigsih, pemicu penguatan rupiah antara lain tindakan Bank Indonesia (BI) dalam melakukan penjagaan dengan terus menarik uang beredar melalui Operasi Pasar Terbuka (OPT).
"Diperkirakan kurs nilai tukar rupiah dapat berada di level Rp9.600 per dolar AS," kata dia.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat 20 poin menjadi Rp9.655 pada Senin pagi, menyusul data tingkat pengangguran AS yang naik.
Sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp9.675 per dolar AS
"Mata uang dolar AS melemah setelah data tingkat pengangguran AS naik lebih dari perkiraan," kata Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Senin.