Kedatangan kami disambut oleh semerbak harum hangat tanah terpanggang matahari, serta pemandangan hamparan padang rumput luas dengan jajaran pohon-pohon baobab. Tiupan angin dari jendela mobil berbaur dengan debu jalanan berbatu menjadi sensasi yang tidak akan mudah terlupakan segenap panca indera.
Tanzania merupakan surga bagi para petualang safari. Tekstur alam yang khas, serta keanekaragaman flora dan faunanya membuat Tanzania menjadi salah satu negara tujuan utama para wisatawan mancanegara untuk bersafari ria.
Negara yang berlokasi di Afrika Timur ini memiliki beberapa Taman Nasional dan Wilayah Konservasi yang terkenal, seperti: Taman Nasional Serengeti, Taman Nasional Gunung Kilimanjaro, Wilayah Konservasi Kawah Ngorongoro, Taman Nasional Ruaha, dan banyak tempat lainnya yang serupa tersebar seantero negeri ini.
Kali ini kami memilih bersafari selama lima hari empat malam bersama satu tim safari lokal: Gregori sebagai pemandu (merangkap sopir) dan seorang juru masak bernama Samuel yang kerap dipanggil juga dengan julukan Mr. D (Delicious).
Selama perjalanan, kami dilengkapi sebuah mobil penjelajah safari 4x4 yang atapnya yang dapat dibuka sehingga kami dapat berdiri melihat ke luar, dan peralatan lengkap berkemah seperti: tenda, kasur, kantung tidur, serta peralatan memasak.
Sesuai rencana, kami akan melakukan perjalanan safari ke empat tempat, yaitu Taman Nasional Tarangire, Taman Nasional Serengeti, Wilayah Konservasi Kawah Ngorongoro, dan diakhiri dengan safari berjalan kaki ke wilayah Taman Nasional Danau Manyara.
Taman Nasional Tarangire
Gregori dan Samuel menjemput kami di bandara lokal Arusha yang merupakan kota terdekat yang menjadi akses utama kami sebelum melakukan perjalanan safari. Dari kota ini kami melanjutkan perjalanan selama 2,5 jam berkendara menuju Taman Nasional Tarangire yang berjarak sekitar 130 kilometer. Gunung Kilimanjaro tampak kokoh tinggi menjulang dari kejauhan di sepanjang perjalanan kami keluar dari kota Arusha.
Taman Nasional Tarangire merupakan taman nasional kedua terbesar setelah Taman Nasional Serengeti yang memiliki populasi jumlah hewan terbanyak, dan juga merupakan satu-satunya taman nasional di dunia yang memiliki populasi gajah terbanyak.
Di dalam lahan taman nasional yang luasnya mencapai 2.850 kilometer persegi ini (hampir sama luasnya dengan Negara Belanda), kita dengan mudah dapat menjumpai beragam jenis hewan liar, seperti gajah, zebra, kerbau, wildebeest, rusa antelope, elands, dan baboon. Mereka tersebar di beberapa tempat yang berbeda.
Saat pagi hari tak jarang kita bisa melihat mereka bergerombol di sepanjang aliran Sungai Tarangire, sedang asyik bermain air. Selain itu taman nasional ini juga merupakan rumah bagi kurang lebih 450 jenis spesies burung.
Keindahan pohon-pohon baobab yang banyak tumbuh di tempat ini, juga menjadi keistimewaan tersendiri. Bentuk mereka yang unik mirip brokoli raksasa tampak serasi dengan alam Afrika yang cenderung kering dan tandus. Spesies ini mencapai tinggi antara 5–25 m. Mereka menyimpan air di dalam batang mereka, dengan kapasitas di atas 120 liter untuk bertahan dalam kondisi lingkungan sekitar mereka dan menjadi pelindung ekosistem yang ada.
Selama berada di tempat ini kami melihat beragam jenis satwa unik seperti monyet bola biru (karena memiliki buah zakar berwarna biru), kawanan gajah, tikus hutan, kawanan rusa yang tengah asyik merumput, jerapah, rubah, babi hutan, dan juga burung pemakan bangkai yang tengah bertengger di sarangnya di atas pohon baobab. Mobil kami juga sempat terhenti oleh pemandangan yang menakjubkan dari rombongan besar baboon, dan juga kawanan kerbau yang baru saja pulang dari sungai.
Mobil mogok dan anak-anak Maasai
Dari Taman Nasional Tarangire kami melanjutkan perjalanan menuju Taman Nasional Serengeti melalui jalan berlubang dan berbatu selama kurang lebih empat jam. Kondisi ini tak ayal membuat mobil rusak, dan kami terpaksa berhenti di pinggir jalan di antara wilayah konservasi Ngorongoro dan padang rumput Serengeti.
Di dalam wilayah Taman Nasional Serengeti hanya Suku Maasai yang diperbolehkan tinggal dan menjalankan kegiatan tradisional mereka menggembala kawanan sapi dan kambing.
Suku Maasai adalah suku asli di Afrika Timur yang begitu kuat menjaga adat istiadat tradisional mereka sebagai kaum penggembala semi nomaden. Mereka banyak hidup di sekitar cagar alam dan taman nasional di wilayah Kenya dan Tanzania.
Saat menunggu Gregori dan Samuel yang terus mencoba memperbaiki bagian mobil yang rusak, datanglah dua orang anak-anak suku Maasai menghampiri kami dan berbaik hati meminjamkan pisau besar mereka ke Gregori yang mencoba mengasah sebilah kayu untuk memperbaiki salah satu bagian mobil, dan sebagai bayarannya mereka berdua minta untuk difoto dengan kacamata hitam yang sedang saya gunakan.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam, ternyata mobil tidak bisa diperbaiki di tempat itu. Untungnya lewat mobil safari lain yang kosong tanpa penumpang bersedia menolong kami melanjutkan perjalanan hingga ke perkemahan umum Seronera. Sementara Gregori masih harus membawa mobil sendirian dan memperbaikinya di salah satu bengkel terdekat dari tempat kami bermalam.



Festival Danau Laut Tawar menampilkan beragam kegiatan wisata bertaraf internasional yang dipusatkan di Kabupaten Aceh Tengah. Praktisi wisata optimis potensi wisata di provinsi Aceh akan lebih bangkit mengejar ketertinggalan dari wilayah lain, terutama ditandai dengan semakin kondusifnya iklim investasi di provinsi itu.
Snorkeling merupakan kegiatan rekreasi air yang populer, terutama di resor pantai tropis dan lokasi selam scuba yang dangkal.
Pulau Pramuka ada di bagian tengah gugusan Kepulauan seribu. Pulau ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Kepulauan Seribu, selain Pulau Untung Jawa, Pulau Puteri dan Pulau Bidadari.
Hamparan luas pasir putih menghiasi Pantai Carita di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pohon-pohon yang berjejer seolah menjadi tempat berlindung. Pemandangan Gunung Berapi Krakatau semakin membuat suasana menyenangkan di ujung barat Pulau Jawa.
