biangberita.com | Sumber Segala Berita

Thu06202013

Last update04:07:55 AM GMT

Back Otomotif Otomotif Motor Pasar Motor 2013 Didominasi Sport dan Scooter

Pasar Motor 2013 Didominasi Sport dan Scooter

  • PDF
sportHonda
Permintaan sepeda motor jenis sport dan scooter diprediksi masih akan tumbuh pada tahun ini seiring dengan perubahan pola ekonomi masyarakat Indonesia.

 

Sebaliknya, pangsa pasar motor bebek semakin menciut mengikuti kecenderungan pasar motor nasional yang masih akan mengalami kontraksi.

Sigit Kumala, Direktur Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), menuturkan penjualan sepeda motor di Tanah Air pada 2012 sebesar 7,14 juta unit atau turun sekitar 12% dibandingkan realisasi 2011 yang mencapai 8,13 juta unit.

Kontraksi penjualan disinyalir disebabkan oleh sejumlah faktor, a.l. penurunan harga komoditas di pasar internasional serta kebijakan penaikan uang muka (down payment/DP) pembiayaan konvensional di dalam negeri.

"Kalau melihat pasar [sepeda motor] pada semester I/2012 market sebenarnya sudah turun sekitar 5% seiring dengan penurunan harga komoditas. Lalu dengan adanya aturan DP reguler, semakin melengkapi penurunan menjadi sekitar 12%," jelasnya.

Data AISI mencatat motor jenis scooter semakin mendominasi pasar sepeda motor nasional, dengan mencatatkan angka penjualan 4,23 juta unit, dengan penguasaan pangsa pasar 59,33%. Kemudian diikuti dengan motor bebek (underbone) sebanyak 2,13 juta unit (29,95%) dan motor sport 765.520 unit (10,97%).

Secara keseluruhan, Honda masih mendominasi pasar motor nasional, dengan penguasaan pangsa pasar 57,3%. Kemudian diikuti oleh Yamaha 34,7%, Suzuki 6,52%, Kawasaki 1,84%, dan TVS 0,26%.

"Kecenderungan konsumen memilih [scooter] matic karena dianggap lebih praktis dan tidak repot. Tetapi segmen bebek masih cukup bagus permintaannya, terutama di daerah-daerah yang infrastrukturnya masih belum bagus," jelas Sigit.

Menurut Sigit, kondisi pasar sepeda motor nasional pada tahun ini kemungkinan masih akan sama dengan tahun lalu. Bahkan, kontraksi diperkirakan akan semakin tajam dengan diberlakukannya ketentuan DP syariah, yakni bisa negatif 15%.

"Tahun ini kemungkinan akan terjadi kontraksi sekitar 15% karena penerapan DP syariah sejak awal tahun. Belum lagi ada kenaikan bea balik nama di sejumlah daerah, terutama di Jawa Timur yang menguasai pangsa pasar 17%, itu naik sekitar 50% menjadi 15%," terangnya.