Sebagai informasi, istilah bubble merujuk pada kondisi di mana keadaan perekonomian tidak sehat terjadi akibat timbulnya spekulasi yang menaikkan harga-harga. Pada akhirnya, harga-harga yang tidak realistis itu akan mencapai puncaknya, dan jatuh pada harga normal secara bersamaan sehingga menimbulkan goncangan ekonomi.
"Dalam situasi ekonomi yang kondusif saat ini pengembang menggunakan kesempatan untuk membangun seenaknya karena memang waktunya tepat," ujar Associate Director Research & Advisory, Arief Rahardjo dalam acara konferensi pers di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa 17 April 2012.
Di samping banyaknya pasokan, potensi munculnya bubble juga disebabkan masyarakat Indonesia umumnya lebih memilih investasi dalam bentuk deposito ketimbang properti, terutama kondominium. "Tentunya ini akan berbahaya. Namun jika dilihat trend-nya, sekarang investasi kondominium di atas deposito," kata Arief.
Walau berpotensi menimbulkan bubble dari sektor kondominium, Arief mengaku kondisi pembangunan properti secara umum kini berbeda jauh dengan posisi tahun 1997. Kala itu, para pengembang umumnya membangun properti tanpa melihat situasi yang ada.
"Sekarang pengembang melihat situasi, jadi ketika membangun apakah terserap atau tidak. Maka dari itu pengembang membangunnya bertahap," kata Arief.
Alasan lain, lanjutnya, adalah pembiayaan dari perbankan untuk pembelian properti umumnya tidak mudah diperoleh. Kondisi ini juga menjadi pertimbangan bagi pengembang dalam membangun sebuah proyek properti.
"Kalau dulu lebih mudah sehingga dapat membangun apa saja. Sekarang lebih sulit karena bank lebih menjaga sektor properti," kata Arief.
Dengan pertimbangan tersebut, Arief cukup optimistis, sektor properti di luar kondominium, masih bisa menghindari potensi bubble. Faktor tingginya permintaan hunian, bisa mengurangi potensi tersebut. "Jadi tidak perlu ditakutkan," kata Arief.



